Ada 5 langkah agar llinkungan kita bisa menjadi lebih baik. Melakkukan kebaikan sekecil apapun itu akan sangat berguna dari pada tidak sama sekali. Dan berdasarkan prinsip pareto usaha yang dilakukan berjumlah 20 % akan dapat meghasilkan hasil sejumlah 80 %. Jika dikaitakan dengan tujuan untuk menjaga lingkungan maka pasti ada langkah kecil yang akan bisa mengahsilkan pergerakan yang jauh.
1.
Bersahabat
dengan air. Air adalah symbol kemurnian. Setiap makhluq hidup mau tidak mau
harus mengadung air dalam tubuhnya untuk terus hidup. Di zaman sekarang air
jernih makin sulit didapatkan secara alami dibandingkan beberapa waktu yang
lalu. Perlaku manusia dalam mengkonsumsi produk-produk yang tidak alami
memerparah sulitnya lingkungan yang alami. Air bersih, tumbuhan-tumbuhan teduh menjadi
jarang. hewan yang pro dan berbakat untuk menjadi pengatur ekosistem alami
semakin jarang dijumpai. Misalanya berang-berang yang padai membuat dam.
Kita sebagai manusia haruslah memikirkan itu dengan serius. Air yang
bersih adalah lambang linkungan yang baik. Renovasi irigasi sama pentingnya
dengan renovasi atau perbaikan jalan raya. Jalan raya adalah jalan kehidupan
utama manusia. Dan irigasi adalah jalan raya bagi makhluq lain. Hewan-hewan dan
tanaman-tanaman telah ribuan tahun turut menjaga suhu bumi menjadi sejuk dan
stabil. Dan jika dicari akar dari perkembangan hewan dan tumbuhan adalah
keberadaan air.
Di awal masa hijrah nabi Muhammad langsung menata irigasi di kota
madinah. Agama lain juga banyak mewahyukan bahwa kehidupan adalah air. Sudah cukup
bukti dari agama atau sains bahwa air adalah unsur yang sangat penting. Tinggal
manusialah yang akan berperan mendukung siklus air yang baik, atau manusialah
yang akan menyumbat perputaran air di bumi ini.
2.
Menjaga
humus tanah. Di zaman sekarang pembangunan sangatlah maju. Dan itu cukup
menguras unsur hara dalam tanah yang sedang dibangun. Jika bumi ini
diibaratakan piring, pertanyaannya adalah tinggal seberapa jumlah humus yang
tersedia dalam tanah? Tidak perlu muluk-muluk mengukur luas humus selauruh
dunia. Kita semua pasti punya rumah dan halaman. Keadaan rumah Tetangga juga
tidak jauh berbeda dengan rumah kita. Dari masing-masing lauas tanah dan
halaman, kita bisa melihat seberapa sejuk tanah yang kita diami. Pasti ada
humus walaupun tersisa sedikit. Kita juga bisa melihat sebarapa besar ukuran
cacing tanah dari galian kecil di belakang rumah. Setelah kita melihat langsung
apa yang terjadi dengan tanah kita tercinta, kita bisa membuat ukuran seberapa
besar sisa humus yang masih tersisa.
Kita tidak boleh lupa bahwa asal dari tempat tinggal kita dulunya
adalah lingkungan alami. Apalagi di Indonesia, kemungkinan besar tanah yang
didiami orang-orang berasal dari hutan belantara. Karena di masa dahulu curah
hujan idnoesia tergolong tinggi. Akibat permbangunan ini kita tinggal ukur
berapa tanah humus yang hilang dari genarasi-ke genarasi. Dengan cara yang
sederhana seperti diatas itu sudah cukup untuk memberi arti apakah kita sudah
tergolong orang yang meikirkan lingkungan atau tidak
3.
Menghidari
sumber sampah. Orang-orang sudah ramai mengkampanyekan minamalis sampah, pengolahan
sampah, dan sebagainya. Namun setiap sisa barang yang bermasalah bukan
barangnya melainakan siapa yang menyebabkan barang itu ada. Samapah plasik
lahir dari mental manusia yang ingin belanjaannya gampang dibawa dan tahan air.
Jadi bukan plastic yang menyababkan kerusakan alam. Dari kesadaran ini, kita
bisa mencari alternative baru. Penggunaan plastic sekali pakai harus
dihentikan. Dan tantangannya adalah rasa malu ketika harus membawa tas besar
dari rumah. Padalah di zaman dahulu nenek moyang membawa tas dari jerami. Hal itu
menjadi biasa jika jamak dilakukan orang-orang.
Kita banyak berharap pada ahli kimia. Entah mahasiswa, atau ilmuan
amatir yang bisa mengobati banjir plastic. Ide dan risetnya sudah ada, tinggal
waktu mereka yang harus kita juga beli. Bagi kita yang tidak punya ketermapilan
dalam mengatasi sesampahan, kita bisa menyumbang orang yang bisa melakukan itu.
Ide mereka brilian. Hanya saja modal yang minim mengharuskan mereka menyudahi
riset.
4.
Paguyuban
anak kecil. Manusia sudah sangat nyaman dengan kabiasaan sehari. plastic,
bangunan, dan karya manusia yang sangat maju sudah sangat memanjakan hidup
manusia. Maka manusia akan sulit untuk dirubah perilakunya. Hal ini juga
terjdai karna memori manusia pendek. Banyak isu atau khazanah bisa hilang dan
ditinggalkan lagi setelah dua minggu. Dari kekacauan mental semacam ini, maka
paguyubab rutin bisa menjadi pemecahan masalah yang sederhana tapi bagus dan
bisa berumur panjang.
Dalam paguyuban peduli lingkungan, kita bisa membuat kurikulum
sendiri, bisa membuat alat preaga sendiri. Yang penting orang-orang dalam
peguyuban itu serius dan betul-betul menyadari saat melakukan aksi. Dalam paguyuban
itu bisa dibuat kajuan kekcil tentang isu lingkunga, atau bahakan bisa
mengakaji hal-hal yang agak sulit dari masalah lingkungan. Yang penting dalam
paguyuban ini bisa terjadi putaran informasi. Dengan adalanya perputaran ide,
maka nilai kemanusia dan alam akan terus bisa diperbaiki. Dan juga pemahaman
manusia akan tersinkgronisasi dengan kondisi alam sekitar.
5.
Minimalism.
Minimalis sangat jauh dari keserahakan. Pemakaian benda secara majemuk juga
menjadi jawaban dari isu lingkungan. Kita bisa membuat scenario untuk
menjamakkan konsep minimalism. Contohnya di lingkungan kita hidup ada 7 kepala
rumah tangga. Dari sini kita bisa berencana bersama bahwa fasilitas dari
masing-masing kepala keluarga harus berbeda satu sama lain. dua kepala keluarga
punya mobil pickup namun 5 yang lain tidak usah beli pickup. Satu kepala
kelauraga yang paling kaya membuat kolam renang atau lingkungan bioma di halam
rumahnya agar 6 tetngga yang lain bisa bermain di sana.
Minimalisme juga diajarkan oleh agama-agama. Minimalisme juga
sejalan dengan sains. Dengan minimalisme,
sebetulnya kita sudah menjadi lebih maksimal.
Demikian 5 langkah yang harus dibuadayakan oleh manusia untuk
mengatasi masalah linkungan. sekian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar