pagi-pagi orang bijak menelik yang terjadi pada badannya. mereka keluar ke halaman rumah dan menatap langit. menyebut dan mengingat yang Maha berkenan dalam karunianya. gemintang yang kian meredup kalah pada matahari. melihat puncak gunung di kejauhan, atau malah berdiri bagi yang rumahnya di ketinggian. tak bisa didefiniskan antara indah, permai, harmoni, mengalir begitu saja. kondisi natural alam yang belum dirusak memberi pesan atau ayat-ayat tak tertulis mengerakkan lidah dari hati. hingga matahari terbit, beberapa burung mulai beterbangan. para pengajar mengatakan bahwa burung-burung itu mencari makannya. sangat yakin walau tak tahu kemana paruhnya akan dibenturkan. dedaunan yang melambai pelan di dahan yang masih terlihat tenang dalam lamunan sisa tadi malam. memang angin belum secepat manusia berlari, tetapi pesannya sedemikian membawa sepercik nuansa nirwana.
pagi yang penuh syukur, nan hanya bisa dilakoni bagi yang mensyukuri.
anak kecil yang hidupnya informal sangat intens menjalani kehidupan semcam itu. berbeda dengan yang aktif jam tujuh sebgai starting action of today. pagi-pagi buta dijalani dengan terburu-buru. bukan berarti hal itu buruk, hanya saja kurang nikmat. ya mau bagaimana lagi? dunia telah menuntut yang seperti demikian. tak tahu dunia versi yang mana yang mengatur semua ini. bukan kritik atau saran untuk hengekang dari dunia yang semcam itu. ini hanya seruan hati kecil anak polos yang lemah dan mungkin kurang wawasan. seruan anak kecil yang mungkin kurang tepat pertanyaannya. lebih memilih bertanya mengapa peradaban ini tidak membahagiakan? dari pada bertanya mengapa saya tidak ikut arus saja? dua pertanyaan yang bertolak belakang satu sama lain.
orang orang yang katanya berfilsafat banyak berpendapat bahwa, yang dicari manusia hanyalah kebahagiaan. caranya terkadang harus melalui tekanan. tekanan menimbulkan perasaan sengasara. tekanan sifatnya terpaksa. terpaksa terjun, berkecipung tercebur dalam lumuran masalah. lantas kebodohan berperan penting dalam fenomena ini. bodoh untuk bertanya balik. bodoh untuk tidak acuh pada jeritan hati. atau bodoh untuk terus berkubang dosa. bodoh yang bukan dalam artian cari-maki, tapi labih pada refleksi kesadaran.
sebagian manusia mengikuti falsafah kebahagiaan itu. lahirlah pertanyaan, mengapa saya harus ikut-ikutan begitu? sedang hati saya tidak bahagia! mereka cenderung abai pada tekanan dunia formal jam tujuh start! mereka memilih bertenang ria dalam syukur dan munajat pagi. membeuat sitem sismbisa mutualisme sendiri dengan siapapun. teramasuk binatang. mereka muratad dari kapitalisme atau soasialisme total. mereka berdiri kokoh seimbang diantara keduanya. mereka sama sekali tidak bisa disebut budak. mereka adalah manusia yang berhasil meraih impiannya. berdaulat atas dirinya sendiri. tak akan pernah dirugikan orang lain dan membuat orang lain merugi. ateis mengatakan hanya alam peraturan dan hakikat harmoni. dan teolog menyebutnya tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar