memang selalu ada bias jika berbicara mengenai tuhan. sebenarnya tidak hanya pada pembahasan tuhan. hampir setiap kata memiliki biasnya sendiri. namun pasti ada satu hal yang identik yang mengikat sebuah sesuatu tertentu. misalkan gelas, jika sudah terdapat bayangan digenggam, terisi air, menjadi alat untuk minum, maka bisa disebut gelas walaupun yang dipakai adalah wadah bekas syampo misalkan. demikian dengan nilai fundamen hidup. jika sudah ada rasa, usaha, dan karya, sudah bisa dipastikan sesuatu itu eksis dan berada. walaupun ada juga paradox dari eksistensial ini. poin inti dari pembahasan adalah, selalu ada satu entah itu nilai, entitas, pengatahuan, dan ilmu yang harus terus disalurkan pada generasi berikutnya. manusia membicarakan apa yang idpertanyakan, mencari jawaban, dan lalu menemukan sesuatu makna. makna ini harus mengalir lagi ke luar. tidak nyaman rasanya jika tidak diarahkan ke tempatnya. para guru tidak nyaman kalau menahan pengetahuannya di hadapan murid. para konspirator tidak nyaman jika rekannya tidak satu warna dan visi saat beraksi mencaplok sesuatu. setiap pengalaman yang diilmukan merindukan tempat lain sebagai curahan. tidak heran para penyanyi jalanan melampiaskan terik matahari dengan suara dawai yang menyentak-nyentak. seribu contoh bisa kita dapati di alam sekitar dalam dua menit.
jika diambil fokus terhadap manusia, maka fleksibilitas aspek pewarisan ini sangat rumit. binatang mewariskan ilmunya sederhana dan diengerti otomatis. entah lewat gen, atau suara, elusan, dan lainnya. namun tidak semudah itu dalam dunia manusia. potensi yang tak sama satu-sama lain. penulis, penyanyi, atau bahkan desahan kenyamanan bersetubuh adalah usaha untuk mewariskan sesuatu pada tempatnya. pada saat yang sama pewarisan ini tercatat oleh semesta. para filsuf dan pemikir langit mempercayai balasan akan datang suatu hari terhadap apa yang diwariskan. para teolog menyebut suraga dan neraka, nirwana atau apa lain semcamnya.
pada tahap kesadaran ini, masihkan manusia akan sembarangan mewariskan sesuatu? tanpa ada neraka sekalipun, apakah manusia tidak berfikir jika dia menjadi ahli waris yang salah sasaran dia akan bahagia? kesadaran manusia tidak boleh salah input dari pewaris sebelumnya. walaupun memang tolak ukur benar salah dan baik buruk sangatlah relatif. tapi kemabali pada diri masing-masing, bahwa cara manusia berpikir dan bahkan merekonstruski apa yang terwariskan padanya menjadi poin penting terhadap apa yang akan direaksikan. dan beruntunglah alam memakai metode ini, metode "hajar kau kan tahu resikonya!" dengan nama tuhan, manusia akan menmui kebijakannya sendiri, lalu ia akan wariskan sebaik mungkin mutiara itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar