Minggu, 09 Juni 2019

RINDU YANG MAHA


tidak ada yang menjamin manusia akan berlabuh kemana. surga an neraka menjadi misteri sepanjang manusia menyadari kehiduapnnya. keduanya hanya bisa menjadi bias yang terus-terusan membayangi hati dan segenap akal dalam jiwa. neraka dibayangkan kobaran apai dan bebauan yang amat sangat menyengat. dan surga dibayangkan sebgai wawangian serta keindahan diatas segala kemewahan. keduanya tak akan pernah seperti yang terlihat di dunia. demikian kehidupan ini di buat dengan grand design-Nya  yang agung. hampir tak bisa dibedakan anatara pengaharaapn dan kekhawatiran. misteri yang memotivasi,menuntun, dan membimbing manusia mengarungi garis merahnya.
saat kecil fenomena kebahagiaan dan kesedihan akrab dan sangat gampang di definisikan. ketika ada rasa yang tak diinginkan, maka disebut kesedihan. sebaliknya kebahagiaan adalah selalu didambakan. kearifan indifidu sangat mempengaruhi bias dan makna dari kedua hal itu. tolak ukurnya terus bergerak dinamis mengikuti fluktuasi waktu. waktu diasumsikan fluktuatif dengan anggapan seperti roda. habis gelap, terang, gelap lagi, terang, lapar,kenyang, lapar, kenyang, hidup, mati,hidup, mati, entah seribu orang mengalami dan memaknai dengan cara yagn beragam. 
semuanya berlajur di lintang waktu yang terbatas. terbatas sendiri sifatnya relatif, artinya selalu dibandingkan sebelumnya. teologi mengajarkan awal dan akhir sama berasal dan berakhir kembali pada tuhan. dalam perjalannanya ada titik koma yang jelas. ketiadaaan, penciptaan, kematian, pertanggung jawaban, pemabalasan dan kemabali pada pencipta menjadi asumsui umum. dinaamika waktu yang terus menggeser perilaku benda atau konsep dari paradigma manusia beserta makhluq yang lain. kesadaran masing-masing yang hidup sangat menetukan esensi dan definisi dari waktu. ada yang mengangapnya sebgai jam lalu menyusun hari dan tahun. ada yang mengatakan   waktu adalah satu jam yang amat panjang secara relatif yang dipacah berdasarakan tolak ukur terentu. tentunya berbeda diantara keduanya dalam hal pengaruh cara berpikir. yang menyadari waktu sebagai paket-paket akan manjadwalkan berbagai urusan melampau kesadarin tujuan hakiki. semisal manusia yang tak sembahnyang gara-gara tuntutan manusia yang lain. bagi yang memilih menganggap waktu sebgai satu jam yang panjang tentu labih berhati-hati dalam membidik proiritas utama. manusa tipe kedua akan terus berorientasi dari dan kemada dia berasal dan kembali.
diantara manusia-manusia itu ada sebgaian golongan yang dilebihkan kesadarannya atas yang lain. dalam teologi terkenal sebgai Nabi, dalam filsafat dikenal sebgai filsuf. begitu juga aspek yang lain menyebut mereka dengan hal yang berbeda-beda. orang semacam ini memliki kelibihan mengindera dan berfikir melebihi kebanyakan orang. visi-misi merak cenderung melewati garis bepikir umum. memang separuh bagian yang merak rasa dan fikirkan bersalah dari satu keberadaan yang berada nan agung. teologi menyebutnya sebgai wahyu. wahyu yang hanya bisa diterima oleh orang yang jujur, bertangung jawab, kecerdasannya luar biasa, dan mempu menyampaikan dengan baik. keempat ciri itu harus ada. merak harus sigap, siapmelawan kebodohan dimanpun mereka berjuang menyeberkan harmoni dan kabajikan. tanpa sifat itu, tak akan lama perjuangan itu akan bertahan. ibarat teknologi, yang lawas tak bisa memmbaca ekstensi file yang rumit. demikian paa penerus mereka akan terus berjuang demi kebenaran itu. karna hakikatnya sejahat manusia pasti merindukan yang benar, bijak, baik atau apalah sebutannya.
fenomena hidup ini kaya variabel dan ajaib. sabar dan syukur harus manusia temani, lantaran keduanya lah yang terkadang lalu lalang dan datang pergi. saat keduanya tiba, manusia harus mengikatnya kuat-kuat. sabar dengan melakukan yang terbaik walau sakit. syukur dengan bertindak tepat saat nyaman. ataua entahlah definisi keduanya, orang -orang mendefinisikannya sendiri-sendiri dengan unik. 
manusia yang ingin kembali pada ketengann hakiki. kembali dengna hati yang selamat dari kerisauan dan kesedihan. hati menjadi portal rasa itu. hatilah tempatnya iman. mendambakan hari kemalai yang tenang. ya ayytuhannafsul muthmainnah,irjii ila robbiki rodiyatan mardiyyah. fadkhuli fi ibaadi, wadkhuli jannati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5 langkah untuk melesatarikan linkungan

Ada 5 langkah agar llinkungan kita bisa menjadi lebih baik. Melakkukan kebaikan sekecil apapun itu akan sangat berguna dari pada tidak sama ...